Trip To Dieng #Part 1
Perjalanan ini dimulai dari jogja sampai Dieng (Wonosobo dan Banjarnegara). Sebelum teman-teman membaca hingga akhir, aku ingin berteman dengan siapa pun yang membaca artikel perjalananku. Jangan lupa tinggalkan komentar supaya aku lebih giat lagi untuk menulis perjalananku lainnya. Baik aku mulai ya.
Liburanku ke Dieng bermula dari berbagai wacana yang tak kunjung menemukan solusi. Sebetulnya aku dan teman-temanku ingin ke Pacitan, mengunjungi beberapa pantai di sana. Sebelumnya lagi, kami berencana akan mendaki di gunung Prau. Tapi, karena berbagai kesibukan di kampus, aku menjadi biang batalnya perjalanan kami. Alih-alih sudah tak tahan ingin liburan di akhir tahun, temanku menghubungiku kalau mereka akan ke Dieng. Wah, Dieng? Aku belum pernah ke sana, apalagi kami akan berkendara roda dua, pasti akan jauh lebih menantang. Dan, ya aku mau, jawabku melalui pesan chat.
Sehari sebelum berangkat, aku sama sekali belum menyiapkan barang-barang yang akan kubawa keesokan harinya. Sebab, aku masih terlalu lelah untuk bersiap-siap, setelah pulang dari Semarang. Ini kesalahan, kuharap tak akan terulang lagi. Aku sempat bertanya lewat grup yang lebih dulu dibuat ke-4 temanku. Barang apa saja yang perlu dibawa? Kita disana mau masak sendiri atau apa? Benar-benar mereka juga tak ada persiapan. Mereka sama-sama bingung agenda apa saja yang akan dilakukan. Katanya, yang penting besok bangun pagi, titik. Alhasil, pukul 03.00 pagi kami harus berangkat, aku dihampiri salah satu temanku, sebut saja namanya Katom. Ini panggilan masa anak-anak yang masih akrab untuknya. Beberapa menit sebelum meninggalkan rumah, aku menyiapkan apa saja yang masih bisa kubawa, seperti mineral 400 ml satu buah, roti sobek satu buah, dompet, kamera, mukena, dan seperangkat alat touch up.
Sekitar pukul 03.15 kami melaju kendaraan roda dua kami (dari Berbah, Sleman) oh iya, kami berjumlah lima orang. Jadi satu temanku lelaki terpaksa berkendara sendirian. Kami melaju kendaraan dengan kecepatan lumayan cepat. Namun, tetap tak lupa kami memenuhi bensin motor, sekitar 20 ribu di jalan Magelang Km.8.
Adzan subuh berkumandang kami sudah sampai jalan Magelang (Tak jauh dari gardu perbatasan.) Salah seorang temanku bernama Embi menyarankan agar kita melaksanakan sholat subuh terlebih dahulu. Hem, bermula dengan perdebatan, akhirnya kami berhenti di masjid selama setengah jam. Takutnya, kalau terus melaju kami tidak menemukan masjid sebelum matahari datang. Selepas sholat, kami melanjutkan perjalanan lagi.
Perjalanan selanjutnya berjalan dengan lancar, alhamdulillah. Dari perbatasan Magelang dan Temanggung kami disajikan panorama gunung yang luar biasa. Berderet-deret gunung memanjakan mata dan tak bisa aku sebutkan namanya. Sayang, aku tak banyak mengabadikan pemandangan gunung. Sebab, temanku terlalu kencang mengendarai motornya. Memasuki kota Temanggung, kami melewati pasar yang berada di pusat kota. Aku melihat, orang-orang sudah mengenakan jaket tabel di sini. Tak lama setelahnya, motor kami sampai di kabupaten Wonosobo. Aku sangat takjub dengan pemandangan yang ada di kanan-kiri jalan. Dua gunung gagah terbentang, sebelumnya, Embi sempat bilang, katanya kami akan melewati dua gunung dari satu jalan bergelombang. Dan benar saja, kami melewati gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Dua gunung yang disebut kembar oleh orang-orang. Aih, aku terpukau, mungkin ini lebay, tapi pemandangan alam sulit didapatkan di kota. Melihat rumah penduduk tersebar di antara lereng, kemudian hawa segar yang tak bisa ku dapatkan di kota.
Kalau sebelumnya perjalanan lancar, dengan disuguhi pemandangan alam. Lain cerita setelah jam menunjukan pukul 05.45. Ya, kami telah tersesat. Embi merasa ada yang ganjil dari perjalanan kami. Katanya, seharusnya kami sudah berbelok ke arah Dieng. Namun Embi sebagai juru perjalanan lupa belokan mana yang seharusnya dilewati. Kami tersesat cukup lama, sampai memutuskan beralih menggunakan G-Maps. Dan syukur, satu jam kemudian setelah melewati kota Wonosobo, kami tiba di desa Dieng, Kejajar, Wonosobo.
Belum sampai di sini rupanya, tantangan sebenarnya baru di mulai ketika melewati gardu pertama arah Dieng. Jalan yang kami lewati bergelombang, bau pupuk yang tercium di beberapa titik jalan. Meskipun begitu, panorama gunung semakin kentara, dengan selimut awan putih. Kami juga melewati sebuah gardu pandang, yang sepertinya bagus untuk menikmati sunrise.
#tripdiengjogja #perjalanankedieng #writingtraveling #biayajogjadieng



Komentar
Posting Komentar