naskah drama 8 orang
please allways include the source....
Kami bocah dari sugeng makmur
Pada suatu
hari, di sebuah desa yang bernama “Sugeng Makmur”. hiduplah warganya yang hidup
dalam kekurangan dan jauh dari campur tangan pemerintahan, serta
fasilitas-fasilitas yang ada di perkotaan. Desa itu jauh dari segala
modernisasi kota yang sudah tercampur dengan budaya asing dan masih kental
dengan tradisi serta adat istiadatnya, oleh karena itu, desa itu belum
berkembang layaknya kota metropolitan yang memiliki segala fasilitas untuk
masyarakatnya. Banyak warga yang terpaksa kerja keras, demi mencukupi kebutuhan
keluarganya. Banyak bocah-bocah yang putus sekolah karena beralih profesi
menjadi buruh tani yang kesehariannya pergi ke ladang dengan jalannya yang
berkilo-kilo jauhnya. karena faktor ekonomi lah banyak anak-anak yang putus
sekolah.
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Suatu senja ketika mentari
perlahan mulai menyisip, terlihat 3
bocah yang penuh dengan sumringah, berjalan dengan langkah gontainya membawa sekarung rumput di punggung mereka. mereka hendak
berjalan menuju rumah pak lurah, menyetor rumput yang sedari tadi di punggung
mereka.
Dudung : wah,
kita dah mau sampai
Imah :iya
dung, semoga pak lurah senang sama setoran kita.
Jamilah :
iya,,, iya,,, itu pasti. Pak lurah itukan orangnya baik, biarpun kita nggak dapet serumput pun mungkin
kita tetep di gaji(sambil ketawa).
Dudung :haha.
Iya kita digaji pake amplop kosong gitu ya?? Ooh Atau amplop yang tulisannya
“maaf anda belum beruntung”
1.(dudung, imah, jamilah tertawa) 2.
(pak lurah sedang berduduk di teras rumah)
Imah : ehh
udah dong ketawanya, itu pak lurahnya di teras
Pak lurah :
wahh kalian udah sampai?
Dudung : iya pak,
ini rumput nya kita taruh sini saja ya pak.
Pak lurah : iya
gapapa. Oh iya ini ada makanan sama uang buat kalian. (sambil menyodorkan
barang)
Imah : waah alhamdulliah, makasih pak
Dudung,
jamilah : makasih pak.
pak lurah :
iya sama-sama. Lebih baik kalian cepat-cepat pulang bapak/ibu kalian pasti udah
nunggu di rumah.
Dudung : ya pak,
kita permisi dulu.
(dudung,
jamilah, imah pulang ke rumah masing-masing)
Keesokan harinya dudung, jamilah
dan imah yang telah berbekal buku, dan karung pergi ke ladang milik pak lurah
sekaligus belajar.Usai putus sekolah hanya hal ini yang bisa mereka lakukan.
belajar dengan segala keterbatasan. namun berbeda dengan anton dan angga yang
nasibnya lebih mujur mereka kerap kali bolos sekolah dan mabuk-mabuk an di
ladang.
Anton : wahh
enak ya jadi orang kaya bisa sekolah, bisa mabok juga(sambil membawa minuman
dan berjalan dengan sempoyongan)
Angga : woyy
kita bisa sekolah, bisa seneng-seneng, nggak kaya’ kalian woyy pagi-pagi udah
nyari rumput hahaha(menunjuk dudung, imah, dan jamilah yang sedang membaca-baca
buku)
Dudung yang
merasa dirinya dan teman-temannya direndahkan, beranjak dari duduk manisnya.
Dudung : maksud kalian apa?
Anton : eh mas
bro nya kesindir, ngga!
Angga : mereka
itu iri sama kita, mereka nggak bisa sekolah lagi. Hahahaa
Jamilah : uuh.
Siapa yang iri sama tampang pemabok kaya kalian?
Anton : heh lo
!Perempuan nggak usah ikut-ikutan! Mending elo pergi ke dapur emak lo terus masakin
buat gue!
Angga : haha bener
juga lo ton,,, kalian itu kasihan, abis putus sekolah ehh jadi kuli nya pak
lurah. Mau-maunya aja sih. Haha
Imah : jaga
mulut kalian!! (hampir menampar angga)
Angga : apa?
mau nampar ini tampar
Dudung : ini
jam sekolah kalian itu harusnya sekolah
Anton : ehh
dung lo nggak usah ikut campur! Orang miskin aja sok nasihatin. Lo mau ibu lo
gue pecat?
Dudung : Terserah kalian mau bilang apa?! Aku mau
pergi (pergi meninggalkan keributan)
Angga : dasar
pengecut kelas kakap, bisanya pergi aja. Nggak berani berantem lo?
Imah : cukup!
Kalian si orang-orang kaya yang terhormat cepet pergi dari sini!
Anton : woyy
makasih udah bilang terhormat, oke kita
juga pergi. Kita juga udah bosen liat muka-muka kaya kalian.
Ketika anton dan angga telah
pergi, imah dan jamilah mencari Dudung yang tadi meninggalkan mereka lebih
dulu.
Imah : loh
dudung kemana ya?
Jamilah :
dung.. dudung. Ah kita balik ke ladang aja yuk. Paling dudung balik ke rumah.
Imah : balik?
Mana mungkin? Dudung tau kewajibannya
tiap habis belajar kita harus nyari rumput. kalau kita enggak nyetor rumput
dari mana kita bisa makan ? dudung pasti ada di sekitar sini.
Jamilah : iya
juga sih, kamu benar. Duh dudung kemana ya?
Imah : gini
aja, sekarang kita belajar dulu, nanti habis nyari rumput kita lanjutin nyari
dudung.
Jamilah : iya
kamu benar.
Tanpa sengaja ketika pak lurah
dan bu lurah ingin melihat-lihat sawahnya dia melihat dudung di bawah pohon
sedang bersedih.
Pak lurah :
loh, itukan dudung ayo bu kita kesana(menggeret tangan bu lurah)
Bu lurah : iya
pak, dasar! anak nggak tau diri udah di gaji, kerja nggak bener! Ayo pak
samperin
pak lurah :
dudung? Kamu ngapain disini? Kamu nggak ke ladang?
Dudung :
(menggelengkan kepala)
Pak lurah :
kamu kenapa dung, kamu sedih?
Bu lurah :
dung, kamu itu harusya kerja nyari
rumput. udah untung kamu itu dibayar! Eeh kerja malah gak bener
Dudung :
maafkan saya pak lurah, bu lurah. Hari ini saya enggak nyari rumput dulu.
Permisi.
Pak lurah :
ibu, jangan ngomong kaya gitu! Lihat dudung pergi
Bu lurah : bapak
ini kenapa sih? Sama orang kaya gitu aja peduli banget
Pak lurah :
udah lah bu! Ayo kita pulang.
Saat itu matahari sangat terik, imah
dan jamilah telah selesai dari belajar singkatnya. Mereka hendak pergi ke
ladang lain . namun ketika mereka melewati sekolah lama mereka, tak sengaja
dudung juga disana.
Imah : lihat kita bebeda sama mereka. Mereka di
punggunya tas sekolah sedangkan kita. Kita apa lah?
Jamilah : iya mah, kapan kita
bisa nginjak sekolah ini lagi ya?
dudung : sekalipun itu bisa, kita harus berjalan berkilo-kilo dari rumah kita. Kaya dulu lagi (dudung berjalan mendekat )
Imah : loh?
Dudung? Dari mana aja kamu?
Dudung : (spontan
dudung menjawab)apa mungkin kita bisa sekolah lagi ? apa ada harapan buat kita
sekolah lagi?
Imah : gak tau
dung. uang dari pak lurah aja Cuma bisa tambah beli beras.
Jamilah :
imah, dudung memang kecil harapan kita buat sekolah tapi kita berdoa aja.
Semoga ada orang baik yang mau membantu kita.
Dudung : udah
setahun kita kaya gini, hidup di ladang. Tiap hari nyari rumput. Berangkat pagi
pulang sore. Belum lagi jalan yang kita lewati bisa mematikan kita
sewaktu-waktu.
Imah : kita
sabar aja toh dung. Tuhan itu adil. Suatu saat kita bakal mendapatkan
pendidikan. Aku yakin.
Saat dudung,imah dan jamilah
berdiri jauh dari gerbang sekolah itu, anton dan angga yang melihat mereka
lebih dulu menghampiri imah, jamilah, dan dudung
Anton : ehh
kalian lagi?
Angga : kenapa
kalian iri kan? Kita bisa pake seragam. Sedang kalian? Kalian pake baju khas
kampung ini. haha
Anton : kamu
juga dung tiap hari pakenya blangkon. Kapan pake topi sekolah?
Dudung :
kalian itu bisanya Cuma ng-buli!
Angga : haha,
kalian mau tau sebabnya?
Imah,jamilah,
dudung : (menggeleng)
Angga &
anton : karena kalian itu pantas di buli (tertawa)
Imah,jamilah,
dudung : L
(sedih)
Anton :
udahlah ngga, gue udah puas. Ayo pulang
Angga : oke,
oh iya motor kita mana?
Anton :
itu?(sambil menunjuk)
Angga &
anton : ngenggg (naik motor)
Beberapa minggu yang lalu pak
lurah telah berkirim surat dengan sahabatnya yang tinggal di perkotaan. pak
lurah mengharapkan agar sahabatnya itu yang dikenal bijaksana mampu memberi
bantuan. Untuk itu pak lurah mengundang sahabatnya agar sewaktu-waktu bisa
melihat langsung keadaan anak-anak “sugeng makmur”.dan hari ini sahabat pak
lurah telah tiba di desa.
Pak lurah :
han makasih bantuan mu, aku dan warga desa ku sangat berhutang budi pada mu.
Pak johan : sudahlah
tak usah begitu aku ihklas
Hari telah sore, pak lurah dan
pak sugito telah menungu anak-anak di halaman rumah pak lurah. Mereka ingin
mengabarkan kabar baik untuk anak-anak itu.
Imah : misi
pak, ini pasokan rumput kita hari ini maaf kita nggak bisa dapet sebanyak
biasanya.
Pak johan :
nak tunggu, kalian mau kemana?
Pak lurah :
kalian kenapa? Wajah kalian masam, oh iya dudung beneran libur hari ini?
Imah : enggak
tau pak.
Pak lurah :
apa kamu tau dudung pergi kemana?
Jamilah :
enggak pak, tadi.. tadi
Pak lurah :
tadi kenapa? Apa yang terjadi?
Jamilah : tadi
kita udah ketemu dudung , tapi sekarang kita nggak tau dudung dimana
Pak lurah :
astagfirullah, lebih baik ayo sekarang kita nyari dudung
Bu lurah : ada
apa to pak? ribut-ribut?
Pak lurah :
dudung buk
Bu lurah :
astagahh dudung lagi dudung lagi
Pak lurah:
ibu! Ini semua salah ibu kalau tadi ibu tidak marah-marah kejadiannya pasti
tidak begini
Pak johan : udah-udah
sugito, ani jangan berantem disini.
Bu lurah : ahh
sudahlah! (sambil bawa minum )
Pak johan :
nak jadi gini, kehadiran saya disini. Saya ingin menyekolahkan kalian. Saya
sudah mendengar banyak cerita tentang kalian dari pak sugito.
Bu lurah : ooh
jadi sahabat bapak ini juga udah kena sihir anak-anak miskin ini? sok mau
ngebantuin segala
Pak lurah :
ibu! Jangan bicara seperti itu!
Bu lurah : ahh
udah ibu balik aja ke dalem. Disini makin panas!
Pak lurah :
han, anak-anak kalian jangan dengerin ya omongannya istri saya. Lebih baik kita
ngabarin dudung kabar baik ini.
Lalu mereka pergi ke rumah dudung berharap
dudung ada di rumah dan kondisi nya juga baik-baik saja.
Imah &
jamilah : (mengetok pintu) dudung.. dung.. dudung
Dari luar
mereka mendengar cek cok antar dudung dan ibunya, lalu mereka masuk tanpa di
duga dudung.
Dudung : buk,
pokoknya dudung pingin sekolah. Dudung iri buk sama teman-teman dudung yang
bisa sekolah. Dudung malu buk tiap hari di caci anak miskin nggak sanggup
sekolah. Dudung malu buk
Ibu dudung :
astagfirullah, dudung. Ibu mu ini minta maaf sejak kematiannya bapak mu. Ibu
memang nggak sanggup nyekolahin kamu. Ibu nggak punya uang nak
Dudung : tapi
dudung nggak mau buk cita-cita dudung Cuma jadi angan-angan
Imah : dung
kamu nggak boleh ngomong kaya gitu(nyaut pebicaraan dari dekat pintu)
Jamilah : iya
dung, kita bisa sekolah lagi kog dung
Dudung : maksud
kalian?
Pak lurah :
nak, bapak bawakan sahabat bapak yang dermawan ini dari kota, kenalin namanya
pak johan.
Pak johan :
loh kenapa kog wajahnya masih sedih? Ini seragam buat kalian ayo ambil
(menggambil
satu persatu)
Imah : wah
bagusya?
Jamilah :
iyaa.
Dudung :
makasih pak
Ibu dudung :
alhamdulillah makasih pak, semoga tuhan yang membalas kebaikan bpk. Makasih
juga pak lurah
Dudung : buk,
dudung minta maaf ya buk. Dudung udah ngebentak ibuk
Ibu dudung :
iya, ibu udah maafkan nak.
Terbinar senyum di wajah
mereka, mimpi buruk tak bisa menggapai cita-cita luluh seketika itu juga. Hanya
rasa bahagia, dan harapan menuju masa depan yang sukses di benak mereka.
TAMAT
Komentar
Posting Komentar